Senin, 17 Juni 2013

Faktor lingkungan dan perilaku dalam Keperawatan Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Kondisi pembangunan kesehatan secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat, yaitu angka kematian bayi, kematian ibu melahirkan, prevalensi gizi kurang dan umur angka harapan hidup. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (2002-2003). Umur harapan hidup meningkat dari 65,8 tahun (1999) menjadi 66,2 tahun (2003). Umur harapan hidup meningkat dari 65,8 tahun (Susenas 1999) menjadi 66,2 tahun (2003).Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita, telah menurun dari 34,4 persen (1999) menjadi 27,5 persen (2004).
Bila dilihat permasalahan gizi antar provinsi terlihat sangat bervariasi yaitu terdapat 10 provinsi dengan prevalensi gizi kurang diatas 30% dan bahkan ada yang diatas 40% yaitu di provinsi Gorontalo, NTB, NTT dan Papua. Kasus gizi buruk umumnya menimpa penduduk miskin/tidak mampu. Di sisi lain masalah baru gizi seperti kegemukan, terutama di wilayah perkotaan cenderung meningkat karena perubahan gaya hidup masyarakat. Angka kesakitan yang tinggi terjadi pada anak-anak dan usia di atas 55 tahun, dengan tingkat morbiditas lebih tinggi pada wanita dibanding pria. Sepuluh penyakit dengan prevalensi tertinggi adalah penyakit gigi dan mulut, gangguan refraksi dan penglihatan, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), gangguan pembentukan darah (anemia) dan imunitas, hipertensi, penyakit saluran cerna, penyakit mata lainnya, penyakit kulit, sendi dan infeksi nafas kronik. Selain itu Indonesia juga menghadapi ”emerging diseases” seperti demam berdarah dengue (DBD), HIV/AIDS, Chikungunya, SARS, Avian Influenza serta penyakit-penyakit ”re-emerging diseases” seperti malaria dan TBC.
B.     Rumusan Masalah
Agar Pembahasan dari Makalah ini tidak lari dari pokok masalah dan pembahasannya tetap berkonsentrasi pada satu bahan judul maka kami dari pemakalah perlu menetapkan rumusan masalah yang akan di bahas :
1.      Menjelaskan tentang masalah kesehatan komunitas
2.      Memahami faktor lingkungan dan perilaku dalam berbagai masalah kesehatan komunitas
3.      Mentebutkan masalah kesehatan yang ada di indonesia
C.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mahasiswa mampu memahami tentang masalah kesehatan komunitas
2.      Mahasiswa mampu faktor lingkungan dan perilaku dalam berbagai masalah kesehatan komunitas
3.      Mahasiswa mampu menyebutkan masalah kesehatan yang ada di Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Masalah Kesehatan Komunitas
Di Indonesia berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 yakni permasalahan pertama yang dialami anak di Indonesia mengenai prevalensi gizi kurang (underweight) antara tahun 2000 sampai 2009 mencapai 19,6%.
Pencapaian ini sudah cukup baik bila dibandingkan dengan pencapaian pada kurun waktu 1990-1999 yang mencapai 22,8%. Pada tahun 2015, diharapkan Indonesia akan mencapai target sebesar 15,5%. Kedua, terkait masalah kasus gizi buruk (malnutrisi) tidak dapat dianggap remeh. Malnutrisi merupakan salah satu dari penyebab mendasar kematian pada anak khususnya di bawah usia 5 tahun dan berkontribusi sebesar 35%. Malnutrisi juga dianggap berhubungan dengan penyebab kematian anak  di bawah usia 5 tahun lainnya. Ketiga, tingkat kematian anak. Hal ini menjadi masalah utama kesehatan anak di Indonesia , namun kesenjangan kesehatan (health inequities) beberapa golongan masyarakat di Indonesia juga berpengaruh besar. Dalam hal tingkat mortalitas anak Indonesia di bawah usia 5 tahun, terdapat kesenjangan antara masyarakat yang tinggal di pedesaaan dan perkotaan (rasio 1,6), golongan ekonomi rendah dan tinggi (rasio 2,4), serta pendidikan ibu yang rendah dan tinggi (rasio 2,5). Dari tiga masalah kesehatan anak yang utama di Indonesia tahun 2011 di atas dapat kita analisis beberapa indikator yang utama yang menjadi kendala dan masalah utama terkait kesehatan anak yang utama di Indonesia. Masalah itu di antaranya sistem pelayanan kesehatan anak di Indonesia yang belum maksimal tercapai yang dapat ditandai tidak meratanya distribusi dokter anak serta minimnya jumlah dokter anak di Indonesia . Dari 2.700 dokter anak se-Indonesia, 700 diantaranya ada di Jakata. Idealnya satu dokter anak menangani kurang lebih 10.000 anak. Saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 8.000 dokter spesialis anak. Daerah dengan sebaran dokter spesialis anak terbanyak adalah Jakarta, yakni 670 orang, Jawa Barat 312 orang, Jawa Timur 283 orang, Jawa Tengah 222 orang, dan Sumatera Utara 142 orang. Adapun daerah lain, seperti Jambi dan Kalimantan Barat, jumlah dokter anaknya hanya belasan orang (Data Ikatan Dokter Anak Indonesia ). Kemudian yang kedua, soal kemampuan institusi pendidikan di Indonesia untuk meluluskan dokter spesialis anak masih minim, 100-150 orang per tahun. Selanjutnya yang ketiga, tidak memadainya infrastruktur juga menjadi salah satu kendala belum tercapainya pelayanan kesehatan anak di Indonesia , yang membuat hampir semua lulusan dokter mengincar kota-kota besar di samping pula penghasilan yang lebih besar. Dan keempat, Kemenkes mengakui masih belum berhasil menerapkan strategi penyerapan dan pendistribusian tenaga kesehatan hingga seluruh pelosok tanah air. Sistem rujukan belum berjalan sebagaimana mestinya.
Menurut Hendrick L. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: faktor perilaku, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan. Dari ke 4 faktor di atas ternyata pengaruh perilaku cukup besar diikuti oleh pengaruh faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan.  Ke empat faktor di atas sangat berkaitan dan saling mempengaruhi.
1.      Perilaku
Perilaku yang sehat akan menunjang meningkatnya derajat kesehatan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya penyakit berbasis perilaku dan gaya hidup. Kebiasaan pola makan yang sehat dapat menghindarkan diri kita dari banyak penyakit, diantaranya penyakit jantung, darah tinggi, stroke, kegemukan, diabetes mellitus dan lain-lain. Perilaku atau kebiasaan mencuci tangan sebelum  makan juga dapat menghindarkan kita dari penyakit saluran cerna.
2.      Lingkungan
Lingkungan yang mendukung gaya hidup bersih juga berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam kehidupan disekitar kita dapat kita rasakan, daerah yang kumuh dan tidak dirawat biasanya banyak penduduknya yang mengidap penyakit sperti gatal-gatal, infeksi saluran saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit Demam Berdarah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan tidak bersih, banyaknya tempat penampungan air yang tidak pernah dibersihkan menyebabkan perkembangkan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah meningkat. Hal ini menyebabkan penduduk di sekitar memiliki risiko tergigit nyamuk dan tertular demam berdarah.

3.      Keturunan
Banyak penyakit-penyakit yang dapat dicegah, namun sebagian penyakit tidak dapat dihindari, seprti penyakit akibat dari bawaan atau keturunan. Semakin besar penduduk yang memiliki risiko penyakit bawaan akan semakin sulit upaya meingkatkan derajat kesehatan. Oleh karena itu perlu adanya konseling perkawinan yang baik untuk menghindari penyakit bawaan yang sebenarnya dapat dicegah munculnya. Akhir-akhir ini teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju. Teknologi dan kemampuan tenaga ahli harus diarahkan untuk meningkatkan upaya mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
4.      Pelayanan Kesehatan
Ketersediaan fasilitas dengan mutu pelayanan yang baik akan mempercepat perwujudan derajat kesehatan masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan terjangkau akan meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Ketesediaan fasilitas tentunya harus ditopang dengan tersedianya tenaga kesehatan yang merata dan cukup jumlahnya serta memiliki kompetensi di bidangnya.
Saat ini pemerintah telah berusaha memenuhi 3 aspek yang sangat terkait dengan upaya pelayanan kesehatan, yaitu upaya memenuhi ketersediaan tasilitas pelayanan kesehatan dengan membangun Puskesmas, Polindes, Pustu dan jejaring lainnya. Pelayanan rujukan juga ditingkatkan dengan munculnya rumah sakit-rumah sakit baru di setiap kabupaten/kota.
Upaya meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan secara langsung juga dipermudah dengan adanya program jaminan kesehatan (Jamkesmas) bagi masyarakat kurang mampu. Program ini berjalan secara sinergi dengan program pemerintah laiinya seperti Program bantuan langsung tunai (BLT), Wajib belajar dan ain-lain.
Untuk menjamin agar fasilitas pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan yang efektif bagi masyarakat, maka pemerintah melaksanakan program jaga mutu. Untuk pelayanan di rumah sakit program jaga mutu dilakukan dengan melaksanakan akreditasi rumah sakit.
Ke empat faktor yang mempengaruhi kesehatan di atas tidak dapat berdiri sendiri, namun saling berpengaruh. Oleh karena itu upaya pembangunan harus dilaksanakn secara simultan dan saling mendukung. Upaya kesehatan yang dilaksanakan harus bersifat komperhensif, hal ini berarti bahwa upaya kesehatan harus mencakup upaya preventif/promotif, kuratif dan rehabilitatif.
Dengan berbagi upaya di atas, diharapkan peran pemerintah sebagai pembuat regulasi, dan pelaksana pembangunan dapat dilaksanakan. Dengan menerapkan pelayanan kesehatan 24 Jam untuk masyarakat dengan penuh ikhlas dan tangggungjawab, diusahakan jangan sampai menghilangkan culture atau budaya bangsa Indonesia dimana mahluk hidup saling membutuhkan satu sama lain.
B.     Contoh Faktor Lingkungan Dan Perilaku Dalam Berbagai Masalah Kesehatan Komunitas
Menurut Hendrick L. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu:
a.       Faktor perilaku
b.      Lingkungan
c.       Keturunan dan
d.      Pelayanan kesehatan.
Dari ke 4 faktor di atas ternyata pengaruh perilaku cukup besar diikuti oleh pengaruh faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan.  Ke empat faktor di atas sangat berkaitan dan saling mempengaruhi. Dalam makalah saya ini, lebih menekankan pada masalah faktor lingkungan perilaku yang menyebabkan masalah kesehatan dalam komunisa atau keluarga :
1.      Faktor Lingkungan
Pendapat Hendrick L tentang masalah dalam kesehatan ini mula-mula diperkenalkan oleh Teori Hipocrates (460-377 SM). Hipocrates berpendapat bahwa sakit bukan disebabkan oleh hal-hal yang bersifat supranatural tetapi ada kaitannya dengan elemen-elemen bumi, api, udara, air yang dapat menyababkan kondisi dingin, kering, panas dan lembab. Kondisi ini dapat berpengaruh pada cairan tubuh, darah, cairan empedu kuning dan empedu hitam. Pada zaman ini hipocrates telah menghubungkan antara kejadian sakit dengan faktor lingkungan.
Faktor lingkungan termasuk salah satu faktor yang menyebabkan masalah kesehatan, khususnya dalam kesehatan lingkungan. Komunitas dimana keadaan dan kebersihan lingkungan menyebabkan masalah fisik dan psikososial dalam masyarakat.
2.      Perilaku
Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas manusia, baik dapat diamati secara langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Dimana perilaku terdiri dari Persepsi (perception), Respon terpimpin (Guided Respons), Mekanisme (mekanisme), Adaptasi (adaptation) (Notoatmodjo, 2003). Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan hasil dari perubahan berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (lingkungan). Pada garis besarnya perilaku manusia dapat terlihat dari 3 aspek yaitu aspek fisik, psikis, dan sosial. Akan tetapi dari aspek tersebut sulit untuk ditarik garis yang tegas dalam mempengaruhi perilaku manusia (Notoatmodjo, 2007).
Perilaku seseorang atau subyek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar subyek. Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007), perilaku kesehatan terbagi menjadi tiga teori penyebab masalah kesehatan yang meliputi :
a.       Faktor predisposisi (Predisposing factors)
merupakan faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi. Pada seseorang dengan pengetahuan rendah dan berdampak pada perilaku perawatan pada penderita hipertensi. Seseorang dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku perawatan hipertensi maka secara langsung akan bersikap positif dan menuruti aturan pengobatan, disertai munculnya keyakinan untuk sembuh, tetapi terkadang masih ada yang percaya dengan pengobatan alternatif bukan medis yang dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang sudah membudaya.
b.      Faktor pemungkin (Enabling factors)
merupakan faktor yang memungkinkan atau menfasilitasi perilaku atau tindakan artinya bahwa faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan. dimana lingkungan yang jauh atau jarak dari pelayanan kesehatan yang memberikan kontribusi rendahnya perilaku perawatan pada penderita hipertensi.
c.       Faktor penguat (Reinforcing factors)
adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku antara lain :
a)      Dukungan Petugas Kesehatan
Dukungan Petugas sangat membantu, dimana dengan adanya dukungan petugas dari petugas sangatlah besar artinya bagi seseorang dalam melakukan perawatan hipertensi, sebab petugas adalah yang merawat dan sering berinteraksi, sehingga pemahaman terhadap kondisi fisik maupun psikis lebih baik, dengan sering berinteraksi akan sangat mempengaruhi rasa percaya dan menerima kehadiran petugas bagi dirinya, serta motivasi atau dukungan yang diberikan petugas sangat besar artinya terhadap ketaatan pesien untuk selalu mengontrol tekanan darahmya secara rutin (Purwanto, 1999).
b)      Dukungan keluarga
Dukungan keluarga sangatlah penting karena keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dan sebagai penerima asuhan keperawatan. Oleh karena itu keluarga sangat berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan oleh anggota keluarga yang sakit, apabila dalam keluarga tersebut salah satu anggota keluarganya ada yang sedang mengalami masalah kesehatan maka sistem dalam keluarga akan terpengaruhi. (Friedman, 1998).

C.     Contoh Masalah Kesehatan Lingkungan Dan Perilaku Dalam Komunitas
Lingkungan merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya masalah dalam komunitas ataupun keluarga, keadaan lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan tercetusnya sebuah penyakit yang dapat menggangu aktifitas maupun kesehatan individu atau kelompok komunitas. Contohnya antara lain penyakit menular seperti TBC dan Scabies, dan Diare dimana kebersihan lingkungan merupakan faktor penyebab, lingkungan yang kurang sehat menyebabkan penularan penyakit yang cepat.
Dan akan semakin memburuk dengan perilaku hidup yang kurang sehat, seperti kebersihan diri, Buang sampah sembarang tempat yang ,hal ini menyebabkan sumber penyakit dapat berkembang dengan mudah dan cepat.
Faktor lingkungan dan perilaku yang menyebabkan masalah kesehatan dapat ditekan dengan kesadaran dan peran serta petugas kesehatan, khususnya perawatn dalam memberikan pelayanan dan promosi kesehatan, diantaranya promotif, prefentif, kuratif, dan pelayanan rehabilitative.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Di Indonesia berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 yakni permasalahan pertama yang dialami anak di Indonesia mengenai prevalensi gizi kurang (underweight) antara tahun 2000 sampai 2009 mencapai 19,6%.
Menurut Hendrick L. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu:
1.      Perilaku
2.      Lingkungan
3.      Keturunan
4.      Pelayanan Kesehatan
B.     Saran
Penulis menyarankan kepada para pembaca bahwa saya dari penulis menerima dengan lapang dada segala kritikan dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah in. dan menyarankan kepada para pembaca hendaknya tidak hanya mengambil satu reperensi dari makalah ini saja dikarenakan saya dari penulis menyadari bahwa makalah ini hanya mengambil reperensi dari beberapa sumber saja.


DAFTAR PUSTAKA

Adningsih, 2003. Tidak Merokok Adalah Investasi, Interaksi Media Promosi Kesehatan Indonesia No XIV, Jakarta.
Agustina, 1999. Pencahayaan dan Perhawaan Terhadap Perumahan Penderita TB Paru, Cermin Dunia Kedokteran, No.84.
Alfrida, 2003. Perumahan Sehat, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes R.I. Jakarta.
Anonim, 1996. Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk penanggulangan Pnemonia pada Balita Dalam Pelita  VI, Jakarta.
Diakses pada tanggal 3 Juni 3013. Jam 20.00 Wita. Dengan alamat URL : http://masalahkesehatan001.blogspot.com/.
Diakses pada tanggal 3 Juni 3013. Jam 20.00 Wita. Dengan alamat URL : http://prasetyoandi1.blogspot.com/2013/03/masalah-kesehatan-di-indonesia-butuh.html


Diakses pada tanggal 3 Juni 3013. Jam 20.00 Wita. Dengan alamat URL : http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-17943-Chapter1-99086.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar